Sultra-Lingkar Sulawesi ||Aktivitas pertambangan nikel di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, membawa perubahan nyata pada denyut perekonomian masyarakat sekitar. Seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan mobilitas pekerja tambang, berbagai usaha baru bermunculan, mulai dari rumah kos, rumah makan, hingga jasa pendukung lainnya.
Di sepanjang jalur nasional Kolaka–Kolaka Utara, sekitar satu kilometer dari akses utama kawasan tambang, terlihat deretan usaha yang tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya rumah makan prasmanan milik Heriyantim, warga setempat yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan di Kendari.
Selain membuka usaha kuliner, Heriyantim juga memanfaatkan peluang lain dengan menyewakan rumah untuk penjualan perlengkapan keselamatan kerja tambang. Ia bahkan menyewakan dua unit mobil pribadinya kepada perusahaan tambang dengan nilai puluhan juta rupiah per bulan. Di sisi lain, suaminya juga bekerja di sektor pertambangan nikel.
Tak berhenti di situ, di belakang rumahnya Heriyantim membangun rumah kos berisi belasan kamar yang kini terisi penuh. Usaha tersebut mulai dirintis sejak dua tahun terakhir, seiring meningkatnya jumlah pekerja dari luar daerah. Ia juga melayani jasa travel untuk kebutuhan mobilitas para pekerja. Meski enggan menyebut angka pasti, ia mengaku penghasilannya kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Rumah Kos Menjamur di Sekitar Tambang
Fenomena serupa terjadi di sejumlah desa sekitar kawasan tambang, seperti Samaenre, Tolowe Ponrewaru, hingga Lapao-pao. Puluhan rumah kos baru berdiri, menandai tingginya permintaan hunian sementara bagi karyawan tambang.
Andi Hadiyanti, salah satu pemilik rumah kos di Tolowe Ponrewaru, mulai menyewakan kamar sejak awal 2024. Dengan fasilitas kamar mandi, dapur mini, kasur, dan kipas angin, kos miliknya dibangun dengan investasi ratusan juta rupiah. Selain itu, Andi juga menyewakan rumah lain kepada perusahaan tambang untuk kebutuhan tempat tinggal petugas keamanan.
Seperti banyak keluarga lain, suami Andi juga bekerja di perusahaan tambang nikel. Ia mengakui keberadaan industri tersebut membuka peluang ekonomi yang sebelumnya sulit didapatkan masyarakat desa.
Peralihan Profesi Warga Lokal
Masuknya industri tambang nikel juga mendorong perubahan mata pencaharian warga. Dari yang semula bertani, berkebun, atau melaut, kini banyak yang beralih ke sektor jasa pendukung tambang.
Eko Syarman, misalnya, kini menjalankan usaha katering harian untuk para pekerja tambang. Setiap hari ia menyiapkan menu sesuai permintaan karyawan. Sebelumnya, ia membantu orang tuanya bertani.
Di wilayah pesisir Hakatutobu, Pomalaa, sejumlah warga yang dahulu berprofesi sebagai nelayan kini bekerja di sektor bongkar muat pelabuhan. Akmal, salah satu pengelola tenaga kerja lokal, memberdayakan belasan pemuda desa untuk memenuhi kebutuhan logistik tambang.
Dampak Ekonomi dan Peran Pemerintah
Pemerintah daerah menilai aktivitas pertambangan nikel memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kolaka. Peningkatan produk domestik regional bruto menjadi salah satu indikator yang diklaim mencerminkan geliat ekonomi tersebut.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui bantuan modal, peralatan, serta pelatihan manajemen dan digitalisasi usaha. Program ini ditujukan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut merasakan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Seiring berkembangnya industri tambang, kawasan sekitar Pomalaa kini dipenuhi fasilitas pendukung seperti pabrik, perkantoran, perumahan karyawan, hingga fasilitas kesehatan yang dibangun melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan.
Antara Peluang dan Tantangan
Pertumbuhan usaha kos, kuliner, dan jasa lainnya menjadi gambaran nyata bagaimana industri tambang nikel memicu perputaran ekonomi di tingkat lokal. Namun, tantangan ke depan tetap ada, terutama dalam menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat saat aktivitas tambang memasuki fase yang berbeda.
Bagi warga seperti Heriyantim dan Andi, tambang nikel telah membuka jalan baru untuk meningkatkan kesejahteraan. “Yang penting bisa dimanfaatkan dengan baik,” kata salah seorang pelaku usaha lokal, mencerminkan harapan banyak warga Kolaka terhadap masa depan ekonomi daerah mereka.

















