Malam Isra Mi’raj: Ketika Salat Turun dari Langit, dan Air Mata Khadijah Menguatkan Dakwah Rasulullah

module: a; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Night; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 35.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~25: 0.0;

Mamuju Tengah |⟡| Lingkar Sulawesi |⟡| Malam 27 Rajab 1447 Hijriah merupakan malam yang sangat sakral bagi umat Islam. Pada malam inilah Allah SWT memuliakan Nabi Muhammad ﷺ dengan sebuah perjalanan agung yang tak mampu dijangkau oleh nalar manusia, yakni Isra Mi’raj—perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha.

Peristiwa mulia tersebut diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

banner 325x300

﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
(QS. Al-Isrā’: 1)

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Namun, sebelum kemuliaan itu Allah anugerahkan, Rasulullah ﷺ terlebih dahulu diuji dengan penderitaan yang sangat berat. Tahun-tahun sebelum Isra Mi’raj dikenal sebagai ‘Aamul Huzn’ (tahun kesedihan), ketika Rasulullah kehilangan dua penopang utama dalam hidup dan dakwahnya: pamannya Abu Thalib, dan istri tercintanya, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها.

Dalam tausiahnya pada peringatan Isra Mi’raj di Masjid Fathun Na’im Manurung, Kamis malam (malam Jumat), Ustadz Andi Amrullah menyampaikan bahwa Isra Mi’raj bukan hanya kisah tentang Rasulullah ﷺ yang dimuliakan di langit, tetapi juga tentang hati yang terluka di bumi.

“Salat diturunkan pada saat Rasulullah berada dalam puncak kesedihan. Hatinya baru saja kehilangan sosok yang selama ini menjadi penguat, penenang, dan pelindung dakwah,” tutur Ustadz Andi dengan suara lirih.

Sayyidah Khadijah RA bukan sekadar istri. Ia adalah orang pertama yang beriman, orang pertama yang membenarkan risalah kenabian, dan orang yang mengorbankan seluruh hartanya demi tegaknya Islam. Ketika manusia mendustakan Rasulullah ﷺ, Khadijah berdiri paling depan membela.

Rasulullah ﷺ sendiri mengabadikan pengorbanan istrinya itu dalam sabdanya:

«آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ»
(HR. Ahmad)

“Ia beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku, ia membenarkanku ketika manusia mendustakanku, dan ia mengorbankan hartanya untukku ketika manusia menahannya dariku.”

Khadijah RA mendampingi Rasulullah ﷺ melewati masa-masa paling gelap dalam dakwah. Ia ikut merasakan lapar saat pemboikotan Quraisy, ikut menahan sakit dan derita, hingga akhirnya wafat dalam keadaan yang sangat memprihatinkan—tanpa harta, tanpa kemewahan, hanya iman dan pengorbanan yang tersisa.

Namun, Allah SWT tidak membiarkan pengorbanan itu berlalu tanpa kemuliaan. Malaikat Jibril datang membawa salam khusus dari Allah untuk Khadijah RA, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

«يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ… فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي، وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ، لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ»
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang kepadamu. Sampaikan salam dari Tuhannya dan dariku kepadanya, serta kabarkan kepadanya sebuah rumah di surga dari mutiara yang tidak ada kebisingan dan kelelahan di dalamnya.”

Dalam sebagian riwayat, disebutkan bahwa kain kafan Khadijah RA berasal dari surga, sebagai balasan atas kesetiaan dan pengorbanannya yang tak pernah terucap sebagai keluhan.

Setelah melalui duka yang mendalam itulah, Rasulullah ﷺ kemudian diangkat oleh Allah SWT ke langit, dan menerima perintah salat lima waktu secara langsung, tanpa perantara wahyu di bumi. Salat menjadi satu-satunya ibadah yang diturunkan di langit, sebagai bukti betapa agung kedudukannya.

Rasulullah ﷺ menegaskan:

«الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ»
(HR. Thabrani)

“Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama.”

Ustadz Andi Amrullah menutup tausiahnya dengan pengingat mendalam, bahwa setiap rakaat salat yang kita kerjakan hari ini, sejatinya adalah amanah yang lahir dari air mata Rasulullah ﷺ dan pengorbanan Sayyidah Khadijah RA.

“Jika kita lalai dalam salat, sejatinya kita sedang meremehkan hadiah langit yang dibayar dengan kesabaran dan penderitaan manusia terbaik,” pungkasnya.

Malam Isra Mi’raj pun menjadi cermin bagi umat Islam: bahwa di balik kewajiban salat, ada kisah cinta, duka, dan pengorbanan yang begitu mahal—dari seorang Nabi yang bersedih, dan seorang istri yang setia hingga akhir hayat.

OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />
OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *