Isra Mi’raj di Je’ne Tallasa: Dari Luka Dakwah di Thaif, Allah Angkat Rasul-Nya ke Langit

Isra Mi’raj di Je’ne Tallasa: Dari Luka Dakwah di Thaif, Allah Angkat Rasul-Nya ke Langit

Je’ne Tallasa |◈| Lingkar Sulawesi |◈|Jumat, 27 Rajab 1447 Hijriah, Masjid Babussalam Je’ne Tallasa diselimuti suasana khusyuk dan haru. Sejak pagi hingga siang hari, jamaah memadati masjid untuk menunaikan Salat Jumat, yang sekaligus menjadi rangkaian pembuka peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ.

Bertindak sebagai khatib Jumat, Ustadz Andi Amrullah mengawali dakwahnya dengan mengingatkan jamaah tentang beratnya jalan yang ditempuh Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan risalah Islam. Usai Salat Jumat, beliau kemudian melanjutkan dengan tausiah khusus peringatan Isra Mi’raj, membawa jamaah menelusuri kembali salah satu episode paling menyayat dalam sejarah dakwah, yakni penolakan Rasulullah ﷺ di Thaif.

banner 325x300

Dalam tausiahnya, Ustadz Andi menegaskan bahwa Isra Mi’raj tidak dapat dipahami hanya sebagai perjalanan fisik menuju langit, tetapi sebagai jawaban Allah atas luka dan kesabaran Nabi-Nya di bumi.

“Isra Mi’raj datang setelah Rasulullah ﷺ benar-benar berada di titik terendah dakwah. Salah satu lukanya yang paling dalam adalah ketika beliau diusir dan dihina di Thaif,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Allah SWT menggambarkan beratnya beban yang dipikul Rasulullah ﷺ dalam firman-Nya:

﴿فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَسَفًا﴾
(QS. Al-Kahfi: 6)

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.

Di Thaif, Rasulullah ﷺ menghadapi penolakan yang tak hanya berupa kata-kata. Anak-anak dan budak dikerahkan untuk melempari beliau dengan batu. Tubuh Nabi terluka, darah mengalir membasahi kaki mulia beliau, hingga akhirnya Rasulullah ﷺ berlindung di sebuah kebun dan memanjatkan doa dengan hati yang remuk, namun tetap penuh harap kepada Allah SWT.

Dalam kondisi itulah, Malaikat Jibril datang bersama Malaikat Penjaga Gunung (Malakul Jibal), menawarkan balasan atas perlakuan penduduk Thaif. Peristiwa tersebut diriwayatkan dalam hadits sahih:

«إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ؟»
Rasulullah ﷺ menjawab:
«بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung kepada mereka.”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak. Aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”

Penolakan manusia tidak menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Justru setelah pintu-pintu bumi tertutup, Allah membuka pintu hidayah dari makhluk lain. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa berimannya sekelompok jin kepada dakwah Nabi Muhammad ﷺ:

﴿قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا ۝ يَهْدِىٓ إِلَى ٱلرُّشْدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا﴾
(QS. Al-Jinn: 1–2)

Ustadz Andi Amrullah kemudian mengaitkan kisah Thaif tersebut dengan kehadiran tujuh jamaah tabligh asal India yang mengikuti peringatan Isra Mi’raj tahun ini. Menurutnya, kehadiran mereka seakan menghidupkan kembali spirit dakwah Rasulullah ﷺ yang penuh kesabaran dan keikhlasan.

“Mereka datang jauh-jauh dari negaranya, meninggalkan keluarga dan usaha dunia, bukan untuk meminta apa-apa. Mereka hanya datang membawa dakwah, persis seperti Rasulullah ﷺ ketika pergi ke Thaif,” ujarnya.

Ia pun menekankan kepada seluruh warga Je’ne Tallasa agar menjamu dan memuliakan para tamu dakwah tersebut, karena mereka tidak datang membawa kepentingan selain menghidupkan agama Allah SWT.

“Mereka tidak meminta bayaran, tidak meminta penghormatan. Yang mereka harapkan hanyalah satu: agar kalimat Allah terus hidup di hati manusia,” tambahnya.

Peringatan Isra Mi’raj di Masjid Babussalam Je’ne Tallasa itu pun berlangsung dalam suasana sunyi dan penuh perenungan. Dari mimbar Jumat hingga tausiah sore hari, jamaah diajak menyadari bahwa salat yang hari ini ditegakkan adalah hadiah langit yang lahir dari luka, penolakan, dan kesabaran seorang Nabi.

Dari Thaif yang penuh hinaan, hingga Isra Mi’raj yang penuh kemuliaan, Allah mengajarkan umat Islam bahwa setiap kesabaran di jalan dakwah tidak pernah sia-sia.

OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />
OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *