Kualitas MBG di Pasangkayu Disorot, Siswa Temukan Benda Asing hingga Makanan Tak Layak Konsumsi

PASANGKAYU, |◈| Lingkar Sulawesi.Info |◈|  — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, mendapat sorotan setelah muncul sejumlah keluhan terkait kualitas makanan yang diterima peserta didik.
Keluhan tersebut disampaikan oleh salah seorang guru SMAN 1 Lariang. Guru yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan itu mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah beberapa kali menemukan persoalan dalam makanan yang dibagikan melalui program MBG.
Salah satu kejadian terbaru terjadi pada Rabu, 9 September 2026. Saat makanan dibagikan kepada siswa, ditemukan benda asing berupa jarum pentul di dalam salah satu menu.
Menurut keterangan guru tersebut, persoalan serupa bukan kali pertama terjadi. Pada menu yang menggunakan lauk ayam, misalnya, masih ditemukan sisa bulu pada daging ayam yang diterima siswa.
Bahkan, pihak sekolah disebut pernah menerima makanan dalam kondisi yang sudah tidak layak konsumsi atau mengalami pembusukan.
“Beberapa kali terjadi. Pada menu ayam masih ditemukan bulu, dan pernah juga ada makanan yang sudah membusuk,” ujar guru tersebut.
Selain persoalan kondisi makanan, sejumlah siswa juga mengeluhkan menu MBG yang dinilai kurang bervariasi. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa merasa bosan dengan pilihan makanan yang diberikan.
Sekolah Sudah Menyampaikan Keluhan
Pihak SMAN 1 Lariang disebut telah menyampaikan kritik dan masukan kepada pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab terhadap penyediaan makanan.
Namun, menurut guru tersebut, sejumlah masukan yang telah disampaikan belum mendapatkan respons sebagaimana yang diharapkan pihak sekolah.
“Kami sudah beberapa kali memberikan kritik dan saran, tetapi dari pihak SPPG belum memberikan tanggapan,” katanya.
Untuk Jumat, 11 September 2026, SMAN 1 Lariang sementara tidak menerima distribusi MBG. Penghentian tersebut berkaitan dengan proses perbaikan standar operasional prosedur (SOP).
Meski demikian, sekolah masih membuka kemungkinan untuk kembali menerima program tersebut setelah dilakukan pembenahan.
Pihak sekolah juga mengkhawatirkan dampak psikologis dari sejumlah kejadian tersebut terhadap siswa. Sebagian siswa disebut mulai mengalami kekhawatiran ketika menerima makanan, terutama jika menu yang diberikan berupa ayam.
“Kalau nanti programnya kembali, kami tetap akan menerima. Tetapi anak-anak sudah mengalami trauma,” ujarnya.
Bahkan, sebagian siswa disebut mulai menolak lauk ayam karena sebelumnya beberapa kali menemukan persoalan pada menu tersebut.
“Anak-anak sudah tidak mau menerima kalau menunya ayam,” tambahnya.
Koordinator MBG Sebut Belum Terima Laporan Jarum Pentul
Sementara itu, Koordinator Wilayah MBG Pasangkayu, Angel Syahril Syarif, memberikan tanggapan terkait berbagai keluhan tersebut.
Syahril mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi mengenai temuan jarum pentul di SMAN 1 Lariang.
Ia mengaku mengetahui persoalan tersebut setelah beredarnya video lain yang memperlihatkan temuan hewan kaki seribu dalam makanan MBG dan kemudian menjadi perhatian luas di media sosial.
“Untuk jarum pentul kami belum mendapat laporan. Kami justru mengetahuinya setelah video tersebut viral dan banyak laporan yang masuk,” kata Syahril.
Menurutnya, persoalan terkait kualitas dan keamanan makanan dalam program MBG harus menjadi bahan evaluasi serius. Hal tersebut penting mengingat makanan didistribusikan kepada masyarakat, termasuk anak-anak dan peserta didik.
Kaki Seribu Ditemukan dalam Menu MBG
Sorotan terhadap SPPG Lariang juga muncul setelah ditemukan seekor kaki seribu di dalam makanan yang disalurkan untuk salah satu posyandu di Desa Singgani, Kecamatan Lariang, Kabupaten Pasangkayu.
Temuan tersebut diketahui setelah video yang memperlihatkan hewan tersebut berada di dalam makanan beredar di media sosial.
Syahril menyebut kasus kaki seribu tersebut telah menjadi laporan resmi yang diterima pihaknya.
Sebagai tindak lanjut, operasional SPPG Lariang untuk sementara dihentikan guna menjalani proses evaluasi. Sementara untuk langkah atau sanksi berikutnya, pihaknya masih menunggu arahan dari pemerintah pusat.
“Saat ini SPPG tersebut diberhentikan sementara untuk evaluasi. Untuk sanksi selanjutnya kami masih menunggu petunjuk dari pusat karena persoalannya cukup berat,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan adanya informasi bahwa kaki seribu sebelumnya kerap terlihat di sekitar area dapur SPPG Lariang.
“Ini merupakan kelalaian. Informasinya, di dapur tersebut memang sering terlihat kaki seribu, bahkan disebut sering berada di dinding dapur,” ungkap Syahril.
Persoalan tersebut kini menjadi perhatian karena menyangkut standar kebersihan, keamanan pangan, serta kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di wilayah tersebut.
Evaluasi terhadap pengelolaan dan proses penyediaan makanan diharapkan dapat memastikan setiap makanan yang didistribusikan kepada siswa maupun penerima manfaat lainnya memenuhi standar kebersihan dan keamanan yang semestinya.
Sumber: TribunSulbar/KOMPAS.com

.|◈| Tim Redaksi Lingkar Sulawesi.Info|◈|

OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />
OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *