Dari Niat Sederhana Menuju Bina Insan Amanah Bersama: Ketika Keterbatasan Tak Memadamkan Cita-Cita Membangun Generasi Qur’ani

MAMUJU TENGAH,|◈| Lingkar Sulawesi.Info |◈| — Tidak semua cita-cita besar lahir dari kemewahan. Sebagian justru tumbuh dari kesederhanaan, keresahan, dan keinginan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Dari sebuah niat sederhana itulah, gagasan mendirikan Yayasan Bina Insan Amanah Bersama mulai tumbuh.

banner 325x300

Bagi Andi Amrullah, inisiator yayasan tersebut, mendirikan sebuah lembaga bukan sekadar membuat nama, memasang papan nama, atau memiliki dokumen legalitas. Lebih dari itu, yayasan diharapkan menjadi wadah untuk mengorganisasi niat baik agar dapat berjalan secara terarah, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Saya tidak memulai dari gedung besar, modal besar, atau fasilitas yang lengkap. Saya memulainya dari niat. Saya ingin ada sebuah wadah yang bisa menjadi tempat untuk bergerak, belajar, berdakwah dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Andi Amrullah.

Dari Sebuah Nama, Lahir Sebuah Harapan

Perjalanan menuju lahirnya nama Yayasan Bina Insan Amanah Bersama ternyata tidak berlangsung begitu saja.

Gagasan awal sempat menggunakan nama Yayasan Al Amru. Kemudian berkembang menjadi Yayasan Bina Insan Amanah Ummat, sebelum akhirnya ditetapkan menjadi Yayasan Bina Insan Amanah Bersama.

Perubahan tersebut bukan sekadar persoalan nama. Di dalamnya terdapat proses panjang untuk menemukan identitas yang dianggap paling tepat bagi sebuah lembaga yang ingin bergerak dalam bidang pendidikan, keagamaan, sosial dan kemanusiaan.

Menurut Andi, setiap kata dalam nama tersebut memiliki pesan.

“Bina Insan” dimaknai sebagai ikhtiar membangun manusia—bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga akhlak, iman, karakter dan kepedulian.

“Amanah” menjadi pengingat bahwa setiap kepercayaan masyarakat harus dipertanggungjawabkan.

Sementara “Bersama” menjadi bagian yang sangat penting.

“Saya sengaja ingin ada kata ‘Bersama’. Karena saya tidak ingin yayasan ini dipandang sebagai milik satu orang atau hanya sebagai proyek pribadi. Saya yang mengawali, tetapi manfaatnya harus bisa dirasakan bersama dan perjuangannya juga harus dilakukan bersama,” katanya.

Dari situlah nama Yayasan Bina Insan Amanah Bersama akhirnya dipilih sebagai identitas yang membawa cita-cita tersebut.

Bukan Karena Sudah Mampu, Tetapi Karena Ingin Memulai

Salah satu hal yang membuat perjalanan ini tidak mudah adalah persoalan keterbatasan.

Andi mengakui bahwa dirinya bukan seseorang yang memiliki sumber daya finansial besar untuk langsung membangun lembaga dengan fasilitas lengkap.

Namun keterbatasan tersebut tidak serta-merta membuat niat itu berhenti.

Dalam kesehariannya, ia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, ia juga menjalankan aktivitas dakwah dan menjadi mubaligh serta khatib.

Dari pekerjaan dan aktivitas tersebut, gagasan membangun yayasan perlahan terus dipelihara.

“Saya sadar kemampuan saya terbatas. Tetapi kalau menunggu sampai semuanya sempurna, mungkin kita tidak akan pernah memulai. Saya memilih memulai dari apa yang ada dan dari apa yang saya mampu,” ungkapnya.

Menurutnya, sebuah lembaga tidak harus langsung memiliki bangunan megah untuk dapat memberikan manfaat.

Rumah, ruang belajar sederhana, halaman, masjid, atau tempat yang tersedia di tengah masyarakat pun dapat menjadi awal sebuah gerakan pendidikan.

Yang paling penting, kata dia, adalah niat yang benar, pengelolaan yang amanah, dan kemauan untuk terus bergerak.

TPQ Menjadi Langkah Pertama

Di antara berbagai gagasan yang ingin dikembangkan, pendidikan Al-Qur’an menjadi salah satu perhatian utama.

Karena itu, salah satu langkah awal yang ingin dikembangkan melalui yayasan adalah TPQ Taman Pendidikan Qur’an Lil Auladi Yayasan Bina Insan Amanah Bersama.

Program tersebut tidak ingin hanya dipahami sebagai tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur’an.

Lebih jauh, TPQ diarahkan menjadi ruang pembinaan anak agar memiliki dasar keagamaan dan karakter yang kuat.

Materi yang dirancang mencakup pembelajaran membaca Al-Qur’an, tahsin dan tajwid, hafalan surat-surat pendek, doa sehari-hari, akidah dan akhlak, fikih dasar, praktik ibadah, pembentukan karakter serta berbagai kegiatan keislaman.

Andi melihat pendidikan Al-Qur’an sebagai investasi jangka panjang.

“Saya ingin anak-anak tidak hanya bisa membaca Al-Qur’an, tetapi juga mencintai Al-Qur’an dan berusaha menjadikannya pedoman dalam kehidupan,” katanya.

Ia juga memiliki pesan khusus kepada para orang tua dan anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan TPA.

“Telah menyelesaikan TPA? Jangan berhenti di sini.”

Menurutnya, belajar agama tidak seharusnya berhenti hanya karena seorang anak telah mampu membaca Al-Qur’an.

Justru setelah memiliki dasar tersebut, pembelajaran harus dilanjutkan menuju tahapan yang lebih tinggi, terarah dan membentuk kepribadian.

Dari Membaca Al-Qur’an Menuju Pembentukan Insan Qur’ani

Gagasan besar yang ingin dibangun melalui pendidikan tersebut adalah pembentukan insan Qur’ani.

Istilah tersebut tidak dimaksudkan sekadar untuk menggambarkan seseorang yang pandai membaca atau menghafal Al-Qur’an.

Insan Qur’ani, menurut Andi, adalah manusia yang berusaha menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an tercermin dalam sikap dan kehidupannya.

Karena itu, pendidikan harus menyentuh tiga hal sekaligus: ilmu, ibadah dan akhlak.

“Saya ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang punya ilmu, punya adab, mengenal agamanya, menghormati orang tua dan guru, serta memiliki kepedulian kepada sesama,” ujarnya.

Dari konsep tersebut, TPQ diharapkan tidak menjadi program sesaat, melainkan menjadi pintu masuk menuju pembinaan pendidikan Islam yang lebih berkelanjutan.

Mimpi Besarnya: Pesantren

TPQ adalah langkah awal.

Dalam jangka panjang, Andi menyimpan cita-cita untuk mengembangkan pendidikan tersebut hingga dapat melahirkan sebuah pesantren.

Namun ia menyadari bahwa pesantren bukan sekadar mendirikan bangunan.

Pesantren membutuhkan sistem pendidikan, tenaga pengajar, santri, sarana prasarana, pembiayaan, manajemen, legalitas dan yang paling utama adalah kemampuan untuk mempertahankan keberlangsungannya.

Karena itu, ia memilih untuk tidak terburu-buru.

“Saya punya cita-cita besar untuk pesantren. Tetapi saya juga harus realistis. Pesantren tidak boleh dibangun hanya karena ingin terlihat besar. Harus ada persiapan, kemampuan dan sistem yang kuat. Karena itu saya ingin memulainya dari bawah,” jelasnya.

Baginya, sebuah pesantren yang besar pada suatu hari nanti harus memiliki fondasi yang kuat sejak awal.

Dan fondasi itu bisa dimulai dari sebuah TPQ sederhana.

Legalitas Bukan Sekadar Administrasi

Perjalanan mendirikan yayasan juga membawa Andi pada kesadaran bahwa niat baik membutuhkan tata kelola yang baik.

Karena itu, proses legalitas yayasan menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Akta pendirian, pengesahan badan hukum, administrasi kelembagaan, perizinan dan berbagai kebutuhan lainnya dipandang sebagai fondasi agar yayasan dapat berkembang secara tertib.

“Saya ingin semuanya jelas. Kalau masyarakat memberikan kepercayaan, maka lembaganya juga harus jelas. Jangan hanya mengajak masyarakat membantu, tetapi administrasinya tidak tertata,” katanya.

Menurutnya, legalitas bukan sekadar untuk memenuhi persyaratan administratif.

Legalitas juga merupakan bentuk keseriusan untuk membangun lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika Keterbatasan Justru Menjadi Ujian Keikhlasan

Dalam prosesnya, Andi menyadari bahwa membangun sebuah yayasan dari nol bukan pekerjaan mudah.

Ada kebutuhan administrasi, biaya operasional, sarana pendidikan, perlengkapan belajar, kebutuhan kegiatan dan berbagai persoalan lain yang harus dipikirkan.

Namun ia tidak ingin keterbatasan menjadi alasan untuk berhenti.

Ia justru melihat kondisi tersebut sebagai bagian dari perjalanan.

“Mungkin saya tidak bisa memberikan banyak secara materi. Tetapi saya bisa memberikan pikiran, tenaga, waktu dan kemampuan yang saya miliki. Kalau setiap orang memberikan apa yang dia mampu, insyaallah sesuatu yang kecil bisa menjadi besar,” tuturnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kata “Bersama” dianggap penting dalam nama yayasan.

Sebab membangun pendidikan dan membina generasi bukan pekerjaan satu orang.

Ia membutuhkan guru, orang tua, tokoh masyarakat, pemuda, para dermawan dan seluruh elemen masyarakat yang memiliki kepedulian.

Mengajak Masyarakat Menjadi Bagian dari Kebaikan

Ke depan, dukungan masyarakat diharapkan menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjalanan yayasan.

Bentuk dukungan tidak selalu harus berupa uang.

Menurut Andi, doa, tenaga, ilmu, fasilitas, buku, perlengkapan pendidikan, pemikiran maupun jaringan semuanya memiliki nilai.

“Saya tidak ingin masyarakat merasa bahwa untuk ikut berbuat baik harus menunggu punya uang banyak. Kadang seseorang hanya mampu memberikan sedikit, tetapi ketika dilakukan bersama-sama, nilainya bisa menjadi sangat besar,” katanya.

Dalam setiap upaya penggalangan dukungan, ia juga ingin mengedepankan prinsip keterbukaan.

Masyarakat yang memberikan amanah berhak mengetahui bagaimana bantuan tersebut digunakan.

Karena itu, laporan kegiatan, dokumentasi dan pertanggungjawaban akan menjadi bagian penting dari perjalanan yayasan.

Media Sebagai Ruang Transparansi

Sebagai seseorang yang juga berkecimpung dalam dunia media, Andi melihat media memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan berita.

Media dapat menjadi ruang dokumentasi sekaligus sarana untuk menyampaikan perkembangan kegiatan kepada masyarakat.

Ia berharap setiap program yang dijalankan dapat diketahui secara terbuka sehingga masyarakat dapat melihat langsung bagaimana sebuah amanah dikelola.

“Saya ingin masyarakat tahu. Kalau ada bantuan yang masuk, untuk apa digunakan. Kalau ada kegiatan, bagaimana pelaksanaannya. Kepercayaan itu harus dijaga dengan keterbukaan,” ujarnya.

Tidak Mengejar Nama, Tetapi Manfaat

Di balik seluruh gagasan tersebut, Andi mengaku tidak ingin yayasan hanya menjadi simbol atau kebanggaan pribadi.

Ia ingin keberadaan yayasan benar-benar menghasilkan manfaat.

“Saya tidak ingin nama saya yang besar. Saya justru ingin manfaat yayasan yang semakin besar. Kalau suatu hari nanti banyak orang yang mendapatkan pendidikan, belajar Al-Qur’an, menjadi lebih baik akhlaknya dan kemudian mereka juga berbuat baik kepada orang lain, itu yang saya anggap sebagai keberhasilan,” katanya.

Menurutnya, sebuah lembaga yang baik seharusnya tidak berhenti pada siapa pendirinya.

Lembaga harus mampu bertumbuh dan memberikan manfaat bahkan ketika orang-orang yang pertama kali merintisnya sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Menanam Benih untuk Masa Depan

Yayasan Bina Insan Amanah Bersama mungkin belum memiliki gedung besar.

Belum memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap.

Belum memiliki sumber daya yang berlimpah.

Tetapi sebuah perjalanan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang-kadang ia dimulai dari satu orang yang memiliki keresahan, satu niat yang tulus, satu ruang sederhana, beberapa anak yang ingin belajar, dan keberanian untuk mengambil langkah pertama.

Bagi Andi Amrullah, perjalanan tersebut ibarat menanam sebuah benih.

Tidak mungkin benih langsung menjadi pohon besar dalam sehari.

Ia harus ditanam, dirawat, disiram, dijaga dan diberikan waktu untuk tumbuh.

Begitu pula sebuah lembaga pendidikan.

“Saya hanya ingin menanam benih kebaikan. Saya tidak tahu seberapa besar pohon yang akan tumbuh nantinya. Tetapi saya ingin memulainya. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan, mempertemukan dengan orang-orang baik dan menjadikan yayasan ini sebagai jalan kebaikan yang manfaatnya terus mengalir,” ucapnya.

Dari sebuah niat sederhana, Yayasan Bina Insan Amanah Bersama mencoba melangkah.

Dari keterbatasan, ia mencoba membangun.

Dari sebuah TPQ, ia berharap lahir generasi Qur’ani.

Dan dari langkah kecil hari ini, tersimpan cita-cita besar untuk menghadirkan pendidikan Islam yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa depan.

Sebab terkadang, perubahan besar tidak dimulai dari mereka yang memiliki segalanya.

Perubahan justru dimulai dari mereka yang tidak memiliki banyak hal, tetapi tidak pernah kehilangan kemauan untuk berbuat baik.

Sumber: Pernyataan dan keterangan Andi Amrullah, Inisiator Yayasan Bina Insan Amanah Bersama.

.|◈| Tim Redaksi Lingkar Sulawesi.Info|◈| 

OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />
OzUCTN_TqnOZlOOD7ybtgDx4JAz0kUDFV_tqz15SRg8Tdb3chaOpuPvrP1vTPcWVWMCQnmUcqbMgpNaHQr2ymdCuZl1XxT1uFHcHx5WEJqjQ4f7-1nsdmA1ohwpvnE13cZ3r_gDs_s/s1600/banner-325x300.jpg" alt="banner 325x300" title="banner 325x300" width="325" height="300" loading="lazy" />

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *