MAMUJU TENGAH,— |◈| Lingkar Sulawesi |◈| Suasana penuh syukur dan kebersamaan mewarnai kawasan pembibitan kelapa sawit UD H. Lono, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Minggu (9/8/2026).
Ratusan undangan hadir dalam kegiatan syukuran atas rampungnya pembangunan pondokan yang berdiri di atas kawasan pembibitan kelapa sawit milik UD H. Lono. Acara tersebut dihadiri warga sekitar, pejabat pemerintah daerah, ibu-ibu majelis pengajian, tokoh agama, tokoh masyarakat serta sejumlah undangan lainnya.
Sejumlah tokoh yang turut hadir di antaranya Imam Masjid Besar Tobadak, Ustadz Andi Muh. Mutawalli; Ketua Panitia Pembangunan; pimpinan Majelis Istigasah, Ustadz Rahman; Pak Taufik dari Masjid Besar Tobadak; serta pejabat pemerintah daerah, H. Asmuni dan H. Abdullah. Sejumlah tokoh masyarakat juga tampak hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran para tokoh agama, pemerintah dan masyarakat menjadi bagian penting dalam suasana syukuran yang berlangsung penuh keakraban. Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara pengelola UD H. Lono dengan masyarakat dan berbagai elemen yang selama ini turut menjadi bagian dari perjalanan usaha pembibitan kelapa sawit tersebut.
Suasana semakin khidmat ketika doa bersama dipimpin Ustadz Andi Amrullah. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan tersebut kemudian diaminkan oleh ratusan tamu undangan yang hadir.
Pembangunan pondokan tersebut menjadi bagian dari perkembangan kawasan pembibitan UD H. Lono yang berdiri di atas lahan kurang lebih tiga hektare. Bagi pengelola, selesainya pembangunan bukan sekadar berdirinya sebuah bangunan, tetapi menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan usaha dan ikhtiar yang telah dilakukan selama ini.
Di hadapan para undangan, H. Prasatiololona atau yang akrab disapa H. Lono menyampaikan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Ia juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan para petani kelapa sawit di Kecamatan Tobadak dan sekitarnya.
Menurut H. Lono, sebagian besar masyarakat Kecamatan Tobadak menggantungkan kehidupan dari sektor perkebunan kelapa sawit. Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat di wilayah tersebut merupakan petani sawit.
Karena itu, keberhasilan para petani menjadi kebanggaan tersendiri baginya, terlebih bagi para petani yang menggunakan bibit kelapa sawit dari pembibitan UD H. Lono.
“Keberhasilan petani adalah kebanggaan bagi kami. Tetapi keberhasilan itu tentu tidak datang begitu saja. Dibutuhkan kerja maksimal, doa, dan juga kualitas bibit yang baik,” ujar H. Lono di hadapan para undangan.
Ia menjelaskan, lahan pembibitan kelapa sawit yang telah dikelolanya selama kurang lebih 10 tahun berawal dari sebuah niat, kerja keras dan doa. Semua itu dilakukan dengan harapan dapat menyediakan bibit kelapa sawit yang berkualitas bagi masyarakat dan para petani.
“Ini berawal dari sebuah niat, kerja keras dan doa, dengan harapan kami mampu memberikan bibit sawit yang terbaik,” tutur H. Lono.
Menurutnya, kualitas bibit menjadi salah satu perhatian utama dalam proses pembibitan yang dikelolanya. Proses seleksi tidak hanya dilakukan ketika bibit telah siap dipasarkan, tetapi dimulai sejak pemilihan kecambah.
Setiap kecambah yang dipilih terlebih dahulu diyakini memiliki kualitas dan keunggulan yang layak untuk dikembangkan. Setelah tumbuh menjadi anakan, proses seleksi kembali dilakukan ketika bibit diperkirakan telah berusia sekitar tiga bulan.
Seleksi kemudian berlanjut hingga tahap akhir, yakni ketika bibit telah berusia sekitar lima hingga enam bulan dan dinilai siap untuk dipindahkan atau dipasarkan kepada petani.
“Seleksi kita lakukan beberapa tahap. Mulai dari pemilihan kecambah, kemudian ketika bibit sudah menjadi anakan sekitar tiga bulan, sampai seleksi akhir pada usia lima atau enam bulan sebelum bibit siap dijual,” jelasnya.
Tekankan Perawatan Bibit
H. Lono juga menekankan pentingnya perawatan intensif selama bibit berada di pembibitan. Kepada para pekerja, ia terus mengingatkan adanya tiga hal utama yang menurutnya wajib diperhatikan untuk menjaga pertumbuhan bibit kelapa sawit.
“Yang selalu saya tekankan kepada para pekerja di sini ada tiga hal yang wajib bagi tanaman, yaitu siram, siam dan pupuk. Ini menjadi syarat mutlak dalam penanganan bibit sawit,” tegasnya.
Menurut H. Lono, prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas bibit sebelum sampai ke tangan para petani.
Ia juga mengimbau agar capaian yang telah diperoleh selama ini tidak hanya disyukuri, tetapi juga dijaga bersama. Menurutnya, keberhasilan yang diraih harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas usaha sekaligus mempererat kebersamaan dengan masyarakat sekitar.
Bagi H. Lono, usaha pembibitan kelapa sawit tidak semata-mata berbicara mengenai kegiatan ekonomi. Lebih dari itu, pembibitan berkaitan erat dengan harapan dan masa depan para petani yang akan menanam serta merawat tanaman tersebut dalam jangka panjang.
Ia berharap para petani kelapa sawit terus meningkatkan kualitas pengelolaan kebun, menjaga tanaman dengan baik serta tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan dalam usaha perkebunan.
Syukuran Sekaligus Momentum Silaturahmi
Kegiatan syukuran tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Kehadiran masyarakat, tokoh agama, majelis pengajian, unsur pemerintah dan tokoh masyarakat menjadikan kegiatan tersebut bukan hanya sebagai bentuk rasa syukur atas rampungnya pembangunan pondokan, tetapi juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi.
Bagi UD H. Lono, dukungan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan usaha yang telah dibangun selama kurang lebih satu dekade.
Rampungnya pondokan di kawasan pembibitan tersebut diharapkan menjadi awal yang baik bagi perjalanan UD H. Lono ke depan. Selain menjadi fasilitas pendukung kegiatan di kawasan pembibitan, pondokan itu diharapkan dapat menjadi tempat berkumpul, bersilaturahmi dan melaksanakan berbagai kegiatan bersama masyarakat.
Di tengah masyarakat Tobadak yang banyak menggantungkan kehidupan pada sektor perkebunan kelapa sawit, keberadaan pembibitan dengan perhatian terhadap kualitas menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung keberlanjutan usaha para petani.
Syukuran tersebut pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjadi ungkapan rasa syukur atas sebuah capaian, penghormatan terhadap proses panjang yang telah dilalui, sekaligus penegasan semangat UD H. Lono untuk terus tumbuh dan memberikan manfaat bersama masyarakat serta para petani kelapa sawit di Mamuju Tengah.


















